Sejarah Damas

SEJARAH SINGKAT DAYA MAHASISWA SUNDA

Latar Belakang

Situasi politik dalam negeri tahun 1950 memberikan dampak yang besar bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Sistem pemerintahan parlementer sarat pergantian kabinet yang cepat dalam kurun waktu enam tahun menunjukan instabilitas politik dalam negeri.

Ketidakharmonisan yang terjadi antar partai politik dalam parlemen mengundang reaksi dari masyarakat luas. Ketidakharmonisan partai politik ditunjukan dengan mosi-mosi yang diberikan pada pemerintahan parlementer yang berkuasa.

Perdana menteri pada setiap periode kepemimpinan rata-rata memimpin satu tahun, karena mosi tidak percaya dan langkah-langkah kebijakan yang dianggap salah oleh parlemen secara umum bahkan tidak jarang kabinet dijatuhkan oleh partai sendiri.

Kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil oleh pemerintah daerah, juga menjadi penyebab tidak bertahan lamanya pemerintahan yang berkuasa. Kebijakan yang ada terutama mengenai perimbangan anggaran bagi daerah.

Gerakan-gerakan di daerah dimunculkan oleh kaum muda daerah yang berusaha untuk menegakan kesejahteraan masyarakat daerah di bawah pemerintahan yang berdaulat dan merdeka. Pergerakan pemuda di Indonesia di awali dengan adanya kongres pemuda Indonesia tahun 1928 yang melahirkan sumpah pemuda. Ternyata perjuangan pemuda Indonesia tidak cukup sampai mencetuskan sumpah pemuda, tapi terlebih lagi pemuda yang mengatasnamakan Indonesia harus berusaha memajukan daerah sendiri.

Lahirnya Organisasi Damas

Di Jawa Barat, tahun 1952 menjadi tonggak pertama lahirnya organisasi pemuda yang berbasis kedaerahan. Muncul organisasi Mitra Sunda, lalu Nonoman Sunda, dan kemudian muncul organisasi-organisasi pemuda Sunda lainnya.

Organisasi pemuda berbasis Kesundaan tidak hanya lahir di Bandung, tetapi juga di Bogor, bahkan Jakarta. Penggerak organisasi pemuda di berbagai daerah di Jawa Barat adalah mereka yang berstatus mahasiswa.

Para mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat dan Jakarta memiliki suatu keinginan yang besar yaitu menginnginkan berdirinya suatu perguruan tinggi yang dapat dijadikan tempat menuntut ilmu bagi para pemuda Sunda.

Keinginan tersebut muncul karena mahasiswa yang menuntut ilmu di Fakultas Teknik dan Perguruan Tinggi Pendidikan guru yang berasal dari Jawa Barat yang merupakan tuan rumah sedikit.

Tahun 1956 muncul gagasan untuk mendirikan suatu organisasi pemuda Sunda yang dapat mewadahi organisasi-organisasi yang ada dalam sebuah organisasi yang berbasis mahasiswa di Jawa Barat. Usaha menuju pembentukan organisasi mahasiswa kemudian digulirkan oleh beberapa mahasiswa di Bandung. Hasilnya pada tanggal 14 Oktober 1956 berdiri sebuah organisasi mahasiswa yang berbasis mahasiswa Sunda dengan nama Daya Mahasiswa Sunda (Damas).

Perkembangan Organisasi Damas

Damas dalam kurun waktu 1956-1969 merupakan organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang politik, budaya, dan pendidikan. Bidang politik diterjuni sehubungan kondisi politik yang perlu dicermati dan dikritisi pada mas itu. Bidang budaya dicermati karena kecenderungan pemuda pada masa itu kurang perduli terhadap budaya daerah, sedangkan masalah pendidikan ditekuni karena tingkat kesadaran masyarakat pada waktu itu terhadap pendidikan khusunya budaya kurang.

Konsep penerimaan serta pengkaderan anggota baru mengalami perubahan, tahun 1956-1960 konsep pernerimaan hanya sebatas menggunakan metode diskusi. Setelah maraknya perploncoan di kampus-kampus, Damas ikut merubah konsep penerimaan serta konsep pengkaderan anggota baru.

Dalam kurun waktu 1956-1965 organisasi Damas hanya berada di Bandung, dalam artian kepengurusan serta keanggotaan baru terdapat di Bandung, lalu pada tahun 1965, lahir Damas Tasikmalaya. Munculnya Damas di kota lain tergantung permintaan dari mahasiswa yang ada di daerah bersangkutan.

Pada tahun 1969, Damas melebarkan sayap dengan munculnya Damas cabang Garut dan Jakarta. Untuk mampermudah koordinasi antara Damas yang berada di beberapa kota kemudian muncul organisasi Pusat atau Puseur Damas yang berkedudukan di Bandung dengan cabang-cabang Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Jakarta.

Lahirnya Puseur memungkinkan Damas lebih melebarkan sayap ke kota lainnya. Tahun 1976 muncul Damas Bogor, tahun 1985 bermunculan cabang-cabang di kota-kota Cirebon, Bekasi, Subang, Sumedang, Purwakarta, Ciamis, dan Sukabumi. Tahun 1988 muncul Damas Cianjur.

Pada perkembangan organisasi Damas di Bandung lebih banyak pergerakannya terutama dalam politik dan budaya, bukan berarti di luar kota Bandung tidak ada kegiatan tetapi Damas Bandung lebih dikenal dibanding Damas yang ada di luar kota Bandung.

Kegiatan-kegiatan seperti perlombaan Kabaya Endah, Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran, Drama Komedi Rakyat, Kawinan Senapati, Lomba Kereta Peti Sabun, Sepeda Santai, Pemilihan Raja Bendo dan Dyah Permata Pitaloka merupakan nilai jual bagi keberadaan Damas di Bandung.

Tahun 1999 merupakan titik terendah dalam sejarah perkembangan organisasi Damas. Hal ini tercermin dari tidak adanya penerimaan anggota baru, tidak adanya kegiatan di cabang Bandung sebagai barometer bagi cabang kota lain selain Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran yang merupakan program rutin dua tahun sekali. Secara organisasi tahun 1999 Damas mati suri. Tahun 2001 merupakan langkah baru organisasi Damas dalam melanjutkan pergerakannya.

Lapangan politik tentunya bukan hal yang dapat dipisahkan begitu saja dari Damas. Pada era 1980an dua nama pendiri Damas menjadi Bupati Daerah Tingkat II Cianjur, yaitu Adjat Sudradjat dan Arifin Joesoef. Jabatan lain yang pernah diemban yaitu Kepala BAPEDDA Jawa Barat oleh Arifin Joesoef. Memet H. Hamdan pernah menjabat sebagai sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, dan Yus Ruslan Ahmad sebagai Wakil Kepala Dinas Pertambangan Jawa Barat.

Nama-nama yang terjun dalam kancah politik sebagai birokrat bukan jaminan bagi Damas sebagai organisasi mahasiswa di Jawa Barat mendapat pujian dari masyarakat Sunda yang ada di Jawa Barat maupun yang ada di luar Jawa Barat. Popong Otje Djoendjoenan, Uu Rukmana, Cecep Rukmana, Lia Nur Hambali adalah aktivis organisasi Damas yang terjun ke dalam dunia politik praktis. Selain itu nama-nama Bubun Bunyamin, dan Misbach aktivis Tasikmalaya yang menjabat Walikota Tasikmalaya dan Bupati Sumedang. Molly Jubaedi pernah menjabat Walikota Sukabumi.

Beberapa aktivis juga ikut merumuskan visi dan misi jawa barat 2010, mereka diantaranya adalah Dudi Efendy, Soedrajat Tisnasasmita, Yus Ruslan Ahmad, dan Ubun Kubarsah. Organisasi Damas merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang masih bertahan dibanding organisasi-organisasi CSB, Mitra Sunda, Kujang Putra, dan Daya Nonoman Sunda.

Mimitran

Pola penerimaan anggota baru di Damas dinamakan Mimitran yang berarti mimiti mimitraan, yang artinya pertama kali berteman. Konsep yang ada mengalami perubahan sejalan dengan perubahan konsep penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus.

Mimitran terdiri dari tiga tahapan yang wajib dijalani oleh semua calon serta wajib dijalankan oleh Senat. Ketiga tahapan tersebut, yaitu:

  1. Pra Mimitran, yaitu proses kampanye tentang keberadaan organisasi Damas sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang Kesundaan. Kampanye dilakukan di lingkungan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan calon mahasiswa atau mahasiswa baru. Isi kampanye berupa Kedamasan dan Kesundaan secara tidak langsung melalui media Pagelaran Kesenian Tradisional, dan olah raga Pencak Silat.
  2. Mimitran, yaitu proses pelaksanaan Mimitran yang dikemas dalam suatu acara secara terperinci dan detail dengan dilaksanakan oleh suatu kepanitiaan khusus.
  3. Pasca Mimitran, yaitu pembinaan anggota baru agar lebih mamahami keberadaan Organisasi

Damas baik fungsi maupun tujuannya di masyarakat.

Mimitran pada awal berdirinya Damas adalah menggunakan metode diskusi yang berlangsung dalam tiga hari saja. Bahan-bahan diskusi yang dijadikan acuan dalam Mimitran mencakup lima hal, yaitu:

  1. Wawasan nusantara
  2. Kesundaan secara umum, meliputi:
    • Eksistensi Sunda di Indonesia
    • Sejarah Sunda
    • Tatakrama Sunda
    • Apresiasi seni dan budaya Sunda
  3. Kedamasan, meliputi:
    • Sejarah berdirinya organisasi Damas
    • Perkembangan organisasi Damas 1956-1960
    • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi Damas
    • Hasil-hasil perjuangan organisasi Damas
    • Masalah khusus yang mambahas kewanitaan di dalam adat Sunda
  4. Organisasi umum/kemahasiswaan, meliputi:
    • Kehidupan kemahasiswaan di indonesia
    • Organisasi kepemudaan
    • Latihan pidato dan diskusi
  5. Keagamaan khususnya Islam

Keseluruhan acara dalam Mimitran adalah merupakan hiburan. Pagelaran seni dan budaya merupakan acara yang mendukung pada materi-meteri yang disampaikan dalam Mimitran.

Materi yang ditambahkan dalam diskusi-diskusi Mimitran yang dianggap perlu sebagai bahan dalam pergaulan dengan dunia luar organisasi Damas. Materi meliputi masalah politik, sosial budaya, dan ekonomi. Konsep Mimitran dengan metode diskusi bertahan sampai tahun 1960 yang kemudian organisasi Damas menyesuaikan diri dengan perkembangan konsep penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus.

Pada tahun 1961, setahun setelah pemberlakuan perploncoan di kampus-kampus organisasi Damas pun tak mau ketinggalan untuk merubah konsep Mimitrannya. Tidak tanggung-tanggung, Damas mengemas waktu dua minggu untuk penerimaan anggota barunya dengan jadual yang padat pula.

Setiap hari terdiri dari dua pertemuan, pertama jam lima sampai jam sembilan pagi, dan kedua jam empat sore sampai jam 12 malam. Materi yang disampaikan lebih banyak mengenai tata krama yang ada dalam adat Sunda. Selain tata karma, aturan-aturan yang ada dalam organisasi Damas menjadi materi yang wajib di ikuti oleh para calon.

Setelah berdirinya kepengurusan Puseur, konsep Mimitran yang diterapkan di semua cabang seragam. Tiga tahun pertama dalam kepengurusan Puseur, Mimitran semua cabang menginduk ke Cabang Bandung dalam konsep. Konsep yang kemudian dianggap ideal untuk dijadikan konsep Mimitran yang lebih menekankan sisi kebudayaan dilaksanakan pada tahun 1972.

Kusmayatna, Kusman, serta beberapa anggota yang merupakan aktivis organisasi terutama dalam pergerakan kebudayaan memasukan ide-ide baru yang kemudian membawa Mimitran Damas menjadi sebuah kegiatan yang ditunggu-tunggu bukan hanya oleh kalangan mahasiswa saja, tetapi juga oleh masyarakata bandung pada khususnya, dan masyarakat yang terdapat di kota-kota yang terdapat Cabang Damas.

Ide-ide yang dimasukan dalam konsep Mimitran tersebut antara lain pemilihan Senapati dan Senawati dengan menggunakan metode pagelaran kesenian, Kawinan Senapati yang disajikan dalam bentuk drama, Hajat Tujuh Bulanan dan Dunya Tibalik sebagai implementasi dari adat masyarakat Sunda dalam menjalani usia kandungan tujuh bulan, Ngabungbang yaitu acara yang dilaksanakan di alam terbuka atau berkemah, serta pemilihan Raja Bendo dan Dyah Permata Pitaloka